Senin, 11 April 2011

BONEKA TUNGGAL IKA (Sebuah Diary bocah yang disebut autis)


Perkenalkan, namaku Sekar Langit. Orang-orang memanggilku Ika. Kadang-kadang aku juga dipanggil Neng, Sayang atau Cantik. Aneh ya?Tapi Aku lebih menyukai panggilan Ika. Aku sekarang masih di Kelompok Bermain TK Laskar Semut . Banyak hal yang ingin aku ceritakan pada kamu.Tapi baiklah, pada kesempatan ini akan aku ceritakan tiga hal yang mewarnai hidupku saat ini.

Pertama, Papa dan Mama.

Papaku orangnya sederhana, pekerja keras, dan humoris. Papa juga tidak terlalu tampan. Tapi menurutku Papa sangat pintar. Atau paling tidak Papa selalu kelihatan sangat pintar. Saking rajinnya bekerja, Papa hanya sedikit punya waktu untukku. Sedangkan Mama, orangnya sangat cantik. Aku saja kalah cantik sama Mama. Tapi Mama kurang pintar. Padahal kata Ibu guru, seharusnya Mama-mama di dunia harus pintar. Karena merekalah guru yang pertama kali bagi anak-anaknya.

Kalau Papa sangat rajin bekerja, Mama tipikal ibu rumah tangga yang pasif. Waktu Mama sehari-hari dihabiskan untuk menonton sinetron. Begitu juga mbak-mbak pengasuhku. Mereka sepertinya dilahirkan untuk menonton sinetron-sinetron cengeng yang tidak masuk akal. Sehingga kalau berdoa, aku selalu mengganti kata syaiton dengan kata sinetron. Sehingga do’anya menjadi begini : Aku berlindung kepada Allah dari godaan sinetron yang terkutuk. Aku rasa Tuhan tidak akan marah mendengar do’aku. Sebab pasti Tuhan pun sangat membenci sinetron-sinetron Indonesia.

O, ya aku sampai saat ini belum bisa ngomong. Apalagi menulis dan membaca. Aku pernah dibawa ke dokter oleh Papa dan Mama. Kata dokter, aku menderita autis, atau apa gitu. Papa dan Mama jadi sedih, sedangkan aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Bukannya aku tidak tahu, tapi bagiku, merekalah yang tidak bisa memahamiku ,walaupun pasti mereka amat mencintaiku.. Dalam posisi ini, aku mencintai Papa dan Mama epenuh hati sehingga suatu hari nanti mereka akan bangga pernah melahirkan aku.

Kedua, Ibu Guruku.

Ibu Guruku namanya Inaka. Lengkapnya Inaka Rachmatina. Cantik sekali, mirip putri Aiko cucu kaisar Akihito. Kalau Papa dan Mama kurang mengerti aku, Ibu Guruku sedikit banyak sangat memahami aku. Menurut ibu Guru, aku tidak menderita autis. Hanya aku dominan otak kanan. Mungkin kanan sekali ya?. Katanya, di dalam diriku tersimpan potensi yang luar biasa. Aku akan menjadi orang hebat, maestro atau apalah,kalau aku dididik oleh orang yang memahami fitrah anak. Bahwa setiap anak dilahirkan berbeda, dan memerlukan penanganan yang berbeda pula.

Ibu Guru tidak pernah mengajariku membaca dan menulis dan berhitung. Sebab anak-anak seusiaku sebetulnya belum seharusnya diajari hal-hal memberatkan semacam itu. Sekarang aku belajar hal-hal sederhana yang kelak akan amalkan di kemudian hari. Seperti bisa memaafkan, bekerja sama, tolong menolong, saling berbagi, jujur, bisa bersabar, saling menghargai, pantang menyerah dan macam-macam akhlak yang bagus. Oya, aku juga belajar membuat es krim, berenang, dan memasak. Yang paling aku sukai adalah membuat es krim. Mungkin kelak aku akan menjadi pengusaha es krim, dan kalian akan aku bagi es krim satu persatu. Atau mungkin aku bias jadi pembuat film berkualitas yang mencerahkan dan merubah dunia.

Ibu Guru sangat baik. Ketika sekolah lain menolak aku, ibu guru menerimaku dengan tangan terbuka. Dalam posisi ini, aku mencintai Ibu Guru sungguh-sungguh, sehingga kelak aku bisa membalas kebaikannya, dan aku berdo’a semoga Allah juga membalas kebaikannya. Amin.

Ketiga, Bonekaku.

Aku mempunyai boneka mirip seperti yang dipunyai seorang lelaki konyol bermata lebar yang aku lihat di televisi. Kata Mama nama lelaki itu Mister Bean dan boneka beruang berwarna coklat itu namanya Teddy. Tapi aku rasa di dunia ini ada jutaan nama Teddy untuk boneka beruang seperti punyaku ini. Sehingga aku perlu memberinya nama. Kunamai boneka ini Spirou, kedengarannya seperti nama tokoh komik Prancis ya? Tapi percayalah, itu bahasa Jin. aku menemukan nama itu dari ucapan Jin yang kulihat di iklan televisi. Jin yang berpakaian Jawa itu bertanya kepada seorang manusia. Begini pertanyaannya : “Wani Spirou?”. Aku langsung jatuh cinta pada nama itu.

Kini Spirou menemani hari-hariku. Kalau bermain dengan anak-anak lain terasa begitu rumit, dengan Spirou segalanya tampak sederhana dan menyenangkan. Ia bisa aku perlakukan sekehendak hatiku. Aku dandanin semauku, mendengar semua ocehanku, khayalan-khayalanku, juga mimpi-mimpiku. Ia tidak pernah nyinyir atau cengeng, juga tidak pernah sakit. Ia setia menemani aku sekolah, tidur, bahkan ketika aku mandi. Spirou bagiku hanya sebagai teman yang menyenangkan tanpa aku mengabaikan teman-teman sekelasku dan teman-teman sepermainanku. Maksudku. Spirou rela menerimaku dengan sepenuh hati, seperti Ibu Guruku, juga Papa mamaku,

Menyenangkan sekali seandainya dunia juga menerimaku seperti mereka menerimaku. Aku akan buat sesuatu kelak. Aku akan menjadi maestro. Mungkin aku menjadi seniman, atau ilmuwan atau apalah, yang jelas Tuhan menciptaku dengan sesempurna-sempurnanya bentuk dan sesempurna-sempurnanya penciptaan. Tidak ada yang salah denganku. Dan aku percaya sangat sedikit manusia yang memahami ciptaa-Nya, begitu juga ajaran-Nya. Dalam posisi ini, aku memakluminya sepenuh hati, seperti Spirou memaklumiku.

Selengkapnya...

Jumat, 05 November 2010

Fase kehidupan menurut tembang Jawa

Apa kabar pembaca? Lama tak jumpe…(upin Ipin mode on). Maaf karena kesibukan yang dibuat-buat, blog ini lama sekali terbengkalai. Rasanya berdosa sekali membiarkan diri ini tak bergerak apapun demi terwujudnya cita-cita Indonesia yang kuat dari keluarga.

Kali ini saya akan mengajak pembaca untuk menengok ajaran sesepuh melalui tembang. Tembang Jawa (macapat) ini ternyata mengandung filosofi yang teramat dalam. Ada sebelas tembang yang selama ini kita kenal yang merupakan fase-fase dalam kehidupan kita.

1. Maskumambang 

- Fase ketika manusia masih dalam alam ruh (baca : masing mengambang dalam rahim) 

2. Mijil

- ketika manusia mijil, mbrojol atau lahir kedunia

3. Sinom

- Fase ketika manusia sangat muda (enom). Ibarat kertas putih yang siap untuk digambar apapun. Masa ini adalah masa bermain dan bermain kira-kira umur 0-10 tahun. Fase terpenting dalam kehidupan seorang anak manusia.

4. Kinanti
- Fase seseorang yang memerlukan tuntunan (dari kata kanti, gandeng) kira-kira disinilah fase seorang anak membutuhkan tuntunan dan tauladan dari kita untuk menghadapi masa depannya kelak.

5. Asmaradhana

- Fase seseorang dikala memasuku akil baligh. Masa Puber, mulai jatuh cinta dan tertarik pada lawan jenis.

6. Gambuh

- Fase dimana seseorang merasa jumbuh/cocok dengan orang yang dicintainya kemudian memutuskan untuk menikah dan menjalani kehiduan bersama-sama.

7. Dhandhanggula

- Fase mapan (cukup sandang, pangan, papan dan sejahtera)

8. Durma

-Fase kemakmuran dengan mulai nandur derma / menanam kebaikan, shodaqoh, jadi orang tua asuh, membuat sekolah gratis dan lain-lain sebagi bentuk tanggung jawab social atas keberhasilan hidup.

 9. Pangkur

- Fase dimana manusia sudah mulai mungkur/membelakangi dunia (porsi dunia sudah mulai dikurangi, lebih banyak beribadah dan mencari bekal akhirat)

10. Megatruh

- Fase ini adalah fase yang pasti dilalui semua makhluk hidup. Yaitu fase pegatnya ruh. Putusnya roh dari badan kasar kita. Fase kematian.

11. Pucung

- Inilah Fase terakhir kita menjalani kehidupan di dunia. Tubuh kita akan di pocong (dibungkus kain kafan) kemudian dikuburkan. Yang berarti tugas kita di dunia sudah tamat.

Terlepas dari apakah kita semua mengalami semua fase itu, yang penting adalah tugas kita sebagai orangtua untuk mempersiapkan anak-anak kita menjalani fase-fase itu dengan gemilang. Mempersiapkan dan mengantar. Menggandeng, bukan memaksa, menunjukkan kea rah cerah. Salam perubahan…“Latarkabunna Thobaqon An Thobaq”, “Sungguh kamu akan menjalani fase demi fase kehidupan”

: Dari berbagai sumber….


Selengkapnya...

Senin, 01 November 2010

LASKARSEMUT AKTIF KEMBALI

Assalamu'alaikum pembaca, mulai hari ini insya Allah blog Laskar Semut kembali aktif...tunggu kabar dari kami selanjutnya....  Selengkapnya...

Rabu, 29 April 2009


Ini dia mantan murid saya yang jago gambar dan bercerita, namanya Anne Salsabila Rahmadi. Cantik ya..


Selengkapnya...

Selasa, 28 April 2009

KEGIATAN PAUD LASKAR SEMUT



kegiatan  PAUD laskar semut










Selengkapnya...

Senin, 09 Februari 2009

BUKU PARENTING AYAH EDY 2


Mengapa anak kita berbeda satu sama lainnya? Apa saja bedanya? Dan salahkah jika mereka berbeda? Itulah pertanyaan yang sering muncul ketika menghadapi persoalan-persoalan dalam mendidik anak. Pertanyaannya, mengapa para orang tua merasa kesulitan dalam mendidik anak?. Ayah Edy kembali menerbitkan buku (seperti janji saya dalam postingan terdahulu untuk mengulasnya), yang berjudul Mendidik Anak Zaman Sekarang Ternyata Mudah Lho…(asalkan tahu caranya). Buku yang diterbitkan oleh Penerbit PT. Tangga Pustaka ini pertama kali diluncurkan pada tanggal 22 Desember tahun lalu. Menurut Ayah Edy, mengapa para orangtua kesulitan mendidik anak, karena: tidak siap menjadi orang tua, mencari nafkah lebih penting daripada mendidik anak, tidak banyak referensi ilmiah yang jelas, terus muara dari semua permasalahn itu adalah karena kita tidak mau belajar!.
Ayah Edy juga menjelaskan perbedaan anak zaman dulu dan anak zaman sekarang. Seperti, anak zaman sekarang lebih mampu berpikir kritis, anak zaman sekarang lebih mampu memandang persoalan dari sudut yang berbeda, dan juga anak zaman sekarang lebih mempunyai keberanian mengungkapkan pendapatnya. Perbedaan-perbedaan itu, menurutnya karena perkembangan teknologi elektronik khususnya televisi,jenis makanan dan asupan gizi serta perkembangan budaya yang begitu pesat.
Perbedaan-perbedaan yang ada menimbulkan cara pandang yang salah juga mengenai anak. Beberapa cara pandang yang perlu kita waspadai antara lain: cara pandang hitam vs putih seperti : anak baik-anak jahat, anak pintar-anak bodoh dan seterusnya. Kemudian cara pandang yang menganggap jika orang tua baik pasti anaknya baik. Ini sama sekali salah sebab baik atau tidak tidak dipengaruhi genetika, melainkan habit atu kebiasaan buruk dari orang tua. Nanny Deborah (tim Nanny 911) mengatakan bahwa “Anak nakal bukan dilahirkan, tetapi dibentuk oleh lingkungan keluarganya. Dan cara pandang yang mengatakan orangtua lebih berpengalaman jadi lebih benar.
Begitu banyak pengaruh yang dating dar budaya eksternal dan mulai meluluhlantakkan pengaruh budaya keluarga. Ayah Edy juga mengutip 10 poin hasil penelitian Thomas Lickona terhadap tanda-tanda kemunduran suatu bangsa yang umumnya dibangun oleh budaya eksternal keluarga. yaitu:
-meningkatnya perilaku kekerasan di kalangan pelajar.
-pemakaian kata-kata yang buruk (ejekan,makian dan celaan).
-pengaruhteman lebih kuat daripada pengaruh guru atau orangtua.
-meningkatnya perilaku seks bebas dan penyalahgunaan obat terlarang.
-merosotnya perilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi.
-menurunnya rasa patriotisme.
-rendahnya hormat pada orang lain.
-meningkatnya perilaku merusak.
-ketidakjujuran merajalela.
-berkembangnya kebencian dan kecurigaan antarsesama.

Itulah akibat-akibat yang ditimbulkan dari disepelekannya pelajaran akhlak (character building). Dan di”utamakan”nya pelajaran yang mubazir seperti harus menghafal rumus akar kuadrat pangkat tiga, trigonometri dan sebagainya yang belum tentu berguna dalam kehidupan anak kita kelak.

Seberapa jauh kita mengenal anak kita? Apa akibat dari kegagalan mengenali anak? Dan beberapa pengalaman Ayah Edy dalam profesinya sebagai praktisi pendidikan disertai contoh kasus dalam program parenting mulai dari rumah-rumah sampai seminar di hotel-hotel berbintang melalui pendidikan yang berbasiskan pada pemahaman Multiple Inteligence dan Holistic Learning System, mengenai metode yang tepat dalam membimbing dan mengarahkan anak sesuai dengan fitrah mereka, akan anda dapatkan di buku ini. Buku yang terdiri dari 17 bab dan 113 halaman ini sudah beredar di toko-toko buku sejak akhir Desember lalu. Harganya murah sekali untuk ilmu yang sedemikian perlu. Cuma Rp. 29.500,-. Jadi buruan beli!!!




Selengkapnya...

Sabtu, 27 Desember 2008

anak-anak laskar semut

 
 









ini dia anak-anak laskar semut


Selengkapnya...

Jumat, 26 Desember 2008

BUKU PARENTING AYAH EDY


Entah sudah berapa kali buku ini berpindah tangan. Sampai lecek dan kumal. Tapi saya merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Sebenarnya sudah agak terlambat kalau saya meresensi buku ini, sebab buku keduanya sudah terbit tanggal 22 Desember 2008 lalu dengan judul Mendidik anak jaman sekarang itu mudah. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali--untuk buku kedua ini,menyusul. .Buku yang diberi judul Mengapa anak Saya suka melawan dan susah diatur (37 Kebiasaan Orang Tua yang menghasilkan perilaku Buruk pada anak) ini sudah mencapai cetakan ketujuh sejak diterbitkan pertama pada bulan Januari 2008 lalu. Penulisnya adalah Ayah Edy --terlahir dengan nama Edy Wiyono (Seorang praktisi Multiple Intelligence dan holistic learning sekaligus pengisi acara Indonesia Strong from Home yang disiarkan radio Smart FM 95.9 Jakarta setiap hari Sabtu pukul 10.00 WIB-12.00 WIB)
     Mengapa Anak Saya suka melawan dan Sulit Diatur? adalah pertanyaan yang seringkali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari ketika kita mendampingi anak. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang manis, yang tidak suka melawan atau menurut saja. Tapi pada kenyataannya, terkadang atau bahkan sering, anak kita melakukan tindakan yang sebaliknya, tidak bisa duduk tenang, suka melawan, tidak mau diatur. Ada juga orang tua yang kebingungan dengan laporan yang di dapatkan dari sekolah karena ternyata anaknya di sekolah luar biasa usilnya, tidak mau diam, dan selalu menjadi trouble maker di kelas. Padahal di rumah, dikenal sebagai anak yang manis dan penurut. Sebaliknya dari sisi anak, mereka seringkali menghadapi orangtua mereka yang tidak konsisten dengan ucapan mereka sendiri seperti melarang anaknya menonton televisi, tapi justru orangtua menonton sinetron pada jam anak belajar.
     Anak juga sering mendapati orang tuanya tidak kompak dalam menghadapi persoalan yang sama. Bahkan si anak sering mendapat perlakuan tidak hormat dari orang tuanya. Menurut Ayah Edy,sisi anak dan sisi orang tua, sering kali kita lupakan, padahal kita dulu pernah menjadi seorang anak. Anak adalah representasi orang tua. Mereka adalah cermin abadi yang tidak pernah berdusta. Lalu, dimana letak persoalan sebenarnya? Buku ini merupakan teman sejati anda dalam mengolah rasa, hati, dan pikiran saat menjalani proses pendampingan anak anda.     Anda juga semakin yakin bahwa anak Anda dan Anda sendiri merupakan keluarga yang unik, solid, dan luar biasa.
    Setelah membaca buku setebal 120 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Grasindo ini, membuat kita berpikir ulang dalam menidik anak. Betapa kebiasaan-kebiasaan kita yang tidak kita sadari ternyata berpotensi besar menghasilkan perilaku buruk pada anak kita. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk membaca dan mempraktekan buku ini. Demi masa depan indonesia yang lebih baik.Insya Allah. Karena bagaimanapun juga, Indonesia harus kuat dan itu dimulai dari rumah kita.
If not us who else? if not now when else? Let's make Indonesia Strong from Home !!!


Selengkapnya...

Senin, 22 Desember 2008

SELAMAT HARI IBU

Setiap memperingati hari Ibu, syair lagu kasih ibu kepada beta,tak terhingga sepanjang masa,hanya memberi tak harap kembali,bagai sang surya menyinari dunia. Kembali mengingatkan kepada kita akan berharganya peran ibu . Syair yang sederhana. Namun dalam dan luas maknanya. Betapa Ibu begitu berarti bagi kita semua. Dengan darah, air susu, keringat dan airmatanya-lah kita bisa menjadi seperti sekarang. Jadi surga pantas tercipta untuk ibu di seluruh dunia. Sekuat apapun kita coba membalas jasa ibu, takkan pernah sampai usaha kita untuk membalasnya.. Cuma surga balasan bagi jasa ibu. Berikut kami sampaikan sebuah kisah yang kami kutip dari blog Ayah Edy seorang praktisi multiple intelligence dan holistic learning, pengasuh acara Indonesia Strong from Home (acara parenting di Smart FM 95,9 Jakarta setiap Sabtu mulai pukul 10.00-12.00 WIB dan siaran ulangnya pada Minggu malam pukul 19.00-21.00. Berikut ini ceritanya :

Kisah Kasih Ibu..sepanjang masa  

Si Budi adalah anak yang kebetulan terlahir cacad, satu dari dua telinganya tidak memiliki daun telinga. Pada saat usianya mulai menginjak lima tahun, Budi kecil sering sekali di ejek oleh teman-temannya. Hingga Budi yang tadinya adalah anak periang belakangan ini menjadi anak yang diam, pemurung, dan cenderung lebih suka menyendiri. Kedua orang tua Budi begitu sedih melihat hal ini terjadi pada anaknya. Ibunya yang begitu sayang padanya, kerap kali selalu memotivasi si Kecil Budi untuk tidak malu dan rendah diri akan kekurangannya tersebut. Namun usaha demi usaha yang dilakukan orang tuanya sepertinya sia-sia belaka. Dari hari ke hari Budi semakin tidak mengurung diri dan bertemu dengan teman-temannya. 

Sampailah suatu ketika orang tuanya mengabari bahwa ada seorang dari surga yang akan membantu Budi untuk memperbaiki daun telinganya melalui proses operasi pencangkokan telinga... Budi kecil sangat bahagia sekali...mendengar berita itu meskipun dalam hati ia bertanya-tanya siapa gerangan orang ini dan apa bisa telinganya di cangkok menjadi bagus seperti telinga yang satunya lagi. 

Singkat cerita operasi itupun berjalan lancar dan sukses. Kini Budi memiliki dua telinga yang normal seperti anak-anak lainnya. Dan tentu saja sejak saat itu Budi kembali menjadi anak yang periang dan kembali aktif seperti sedia kala. Akan tetapi didalam hati Budi ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Siapakah Gerangan orang dari Surga tersebut yang telah begitu mulia mau mencangkokan telinga bagi dirinya. Namun setiap kali hal ini ditanyakan pada kedua orang tuanya, Budi selalu mendapat jawaban “Sayang kelak kamu akan tahu dengan sendirinya siapa orang itu. 

Sampailah Budi kini sudah menjadi orang Dewasa yang sudah bekerja di luar daerah dan tinggal jauh dari kedua orang tuanya. 

Suatu ketika Budi begitu kaget mendapat berita bahwa Ibunya dalam kondisi sakit keras dan Kritis. Segera saja Budi memutuskan untuk mengambil cuti dan segera menengok ibunya. Sayang sekali begitu Budi tiba dirumahnya Ibunya telah pergi mendahului untuk berpulang pada Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Budi bagitu sedih, kaget dan yang membuatnya lebih terpukul lagi manakala ia melihat Ibunya sedang dimandikan, dan menemukan bahwa salah satu daun telinga ibunya tidak ada....., Budi tidak pernah menyangka bahwa jika selama ini ibunya selalu memanjangkan rambut adalah untuk menutupi salah satu telinganya yang telah ia potong untuk di cangkokan pada dirinya. Budi mulai menitikkan Air Mata... betapa ia tidak pernah mengetahui bahwa orang yang datang dari Surga itu ternyata adalah ibunya sendiri dan kini tanpa sepengetahuannya pula orang tersebut telah kembali lagi ke Surga tanpa Budi berada disampingnya. 

Para orang tua dan guru yang berbahagia....sadarkah kita bahwa sesungguhnya begitu besar cinta seorang ibu pada anaknya....apapun rela ia korbankan demi anaknya tercinta....Ibu kita tidak pernah meminta apun sebagai imbalannya. Tapi mengapa terkadang hanya untuk mendengarkan atau mengikuti nasehatnya saja kita begitu sulitnya, meskipun sesungguhnya nasehat-nasehat itu hanya untuk kebaikan hidup kita dan sama sekali bukan untuk kebaikan ibu kita.... 

Anda pasti terharu mendengar kisah ini. Tidak ada kata terlambat untuk memohon maaf atas semua salah kita pada ibu kita. Dan mulai membahagiakannya mulai saat ini.... 







Selengkapnya...

Senin, 15 Desember 2008

Foto-foto arsip PAUD Laskar Semut










Selengkapnya...

Selasa, 09 Desember 2008

Maryamah Karpov


Setelah ditunggu-tunggu para penggemarnya, akhirnya terbit juga novel keempat dari tetralogi Laskar Pelangi. Novel yang diberi judul Maryamah Karpov ini diluncurkan pada 28 November 2008 pagi di acara Apa Kabar Indonesia Pagi (tv one) dan sore harinya di MP Bookpoint. Mulai beredar di toko buku keesokan harinya.


Penerbit Bentang rupanya menunggu momen yang tepat untuk menerbitkan novel ini. Setelah sukses film Laskar Pelangi--buku kesatu dari tetralogi ini--pecinta buku sudah mulai bertanya-tanya kapan novel ini terbit. Kalau kita ketikkan kata kunci Maryamah Karpov di mesin pencari, rupanya banyak sekali yang penasaran. Bahkan ada juga yang mencari bajakannya dalam format pdf. Ada-ada saja.


Tak bisa dipungkiri, orang yang pernah menikmati ketiga novel Andrea Hirata (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor), pasti akan penasaran pada novel pamungkasnya ini--menurut Andrea, ia akan berhenti dulu dari dunia tulis-menulis. Gurihnya ramuan kata-kata yang ditulisnya seakan mengajak kita untuk sayang untuk menghabiskannya sekali duduk. Kekuatan novel-novel Andrea terletak pada kata-kata. Setiap kalimat berpeluang menjadi sebuah paragraf, setiap paragraf bisa menjadi sebuah bab, dan setiap bab bisa menjadi novel baru. Ia tak mendayu-dayu atau nyastra. Ia memadukan kelincahan lidah Melayu dalam bercerita dengan keseriusan sains yang yang mempesona. Hasilnya ramuan yang gurih, dan maknyus.


Novel ini menceritakan sekembalinya tokoh Ikal dari Prancis. Bagaimana tokoh Arai menemukan kebahagiaannnya dengan dipanggilnya kembali ke Prancis yang tertunda akibat penyakit yang dideritanya, juga cinta sejatinya, Zakiah Nurmala yang bersedia dinikahi setelah belasan kali menolaknya. Zakiah kemudian diboyong ke Prancis. Selain itu Arai juga berkesempatan meneruskan studi ke tingkat Ph.D karena Liaison Officernya yakni Maurent LeBlanch bersedia merekomendasikan Arai untuk mendapat beasiswa tersebut. Juga cerita tentang tetek bengek kehidupan orang-orang Melayu, Hokian, Ho Po, Khek juga orang-orang Sawang. Sehingga Penerbit Bentang Pustak menggolongkan novel-novel Andrea sebagai cultural literary non fiction, yakni karya nonfiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan kebudayaan. Dan yang menjadi ruh novel ini tak lain adalah mimpi-mimpi Ikal. Kali ini mimpi menemukan A Ling ternyata belum padam. Sampai-sampai Ikal bersusah payah membangun sebuah perahu selama tujuh bulan hanya karena firasatnya mengatakan A Ling dan keluarganya terdampar di Batuan--sebuah pulau di dekat Singapura--setelah sesosok mayat lelaki bertato kupu-kupu terdampar di pantai Belitong. Dan Ikal pernah melihat tato seperti itu di lengan A Ling. Menurut A Ling tato itu identitas trah keluarga. Hanya ia dan keluarganya yang memiliki tato semacam itu. Sedangkan Maryamah sendiri adalah nama pemilik kedai kopi yang jago catur dengan teknik-teknik Karpov.


Gurih. Benar-benar gurih novel ini. Meskipun ada satu-dua inkonsistensi cerita--atau mungkin salah cetak-- tapi tetap enak.


Mimpi. Itulah hikmah dari novel ini. Di hutan, di lautan atau di belantara Megapolitan, jangan pernah bunuh mimpi. Apapun mimpi itu.



Selengkapnya...

Jumat, 05 Desember 2008

Ibrahim pun meminta pendapat anaknya

Tidak terasa sebentar lagi kita akan memperingati Hari Raya Idul Adha. Hari yang diperingati berdasarkan peristiwa agung ribuan tahun silam. Ya kita semua tahu peristiwa disampaikannya wahyu Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya, Ismail AS. Semua rangkaian kejadian yang mengiringi peristiwa tersebut hari ini dinapaktilasi oleh sekitar 2 juta umat muslim di seluruh dunia yang menunaikan ibadah haji. Semua ritual ibadah haji sebagian besar memang berdasarkan apa yang telah Ibrahim AS dan Ismail AS kerjakan di masa lalu.
     Saya di sini tidak akan membahas prosesi ibadah haji, ataupun prosesi penyembelihan Ismail AS yang kemudian oleh Allah SWT diganti menjadi seekor gibas (semacam domba). Wallahu a'lam. Peristiwa yang kemudian menjadi sebuah ritual ibadah yang dinamakan qurban. Saya hanya ingin menyinggung sebuah hikmah yang mungkin belum kita sadari. Yaitu betapa demokratisnya Ibrahim AS.
     Seperti diceritakan dalam Al- Qur'an Surat Ass Shaffat(37) ayat 102.
     " Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah pendapatmu!. Ia menjawab : Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". 'Maka fikirkanlah pendapatmu' sebuah ucapan yang sangat demokratis yang diucapkan manusia sekaliber Ibrahim AS. Beliau meminta pendapat anaknya mengenai wahyu yang baru saja diturunkan oleh Allah SWT. Jadi pantaskah kita bersikap otoriter kepada anak kita dan memaksakan kehendak kita kepada mereka? Sebuah hikmah Idul Adha yang perlu kita renungkan bersama.  Paling tidak nilai dari ayat di atas membuka cakrawala pandang dalam diri kita. Mengajak kita berpikir ulang, bahwa anak kita adalah mitra kita. Bukan objek dari ambisi-ambisi kita. Betapa indahnya...
      Oya, kami segenap pengelola, dewan guru, murid-murid, dan wali murid PAUD Laskar Semut Citra Raya Tangerang, mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1429 H. Semoga keikhlasan Ibrahim AS dan Ismail AS menjadi teladan dalam kita melangkah. Merayakan hidup dengan cinta. Seperti cinta mereka...
      
Selengkapnya...